" Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah " (HR. Muslim)

Selasa, 01 Februari 2011

"Sex Before Marriage" Bukan Cinta Sejati


Dua sejoli itu duduk berdampingan di sebuah taman yang rindang yang penuh pepohonan. Mereka berdua sebenarnya tidak sendirian. Karena tak jauh dari tempat mereka bercengkerama, belasan pasangan laki perempuan yang lain juga duduk menyepi.
Apakah yang duduk-duduk ini pasangan suami istri? Bukan. Mereka adalah pasangan muda-mudi yang menumpahkan perasaan kasmarannya. Sayangnya, cara yang mereka tempuh adalah cara yang keliru. Pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang asing ditemukan. Bahkan tak jarang aktivitas pacaran tersebut dilakukan di rumah Allah, yaitu di masjid. Kebanyakan muda-mudi yang belum punya status nikah tetap nekad bermaksiat di tempat mulia semacam itu.
Pacaran Sudah Jelas Jalan Menuju Zina
Wahai muda-mudi ... Jalan manakah lagi yang lebih dekat pada zina selain pacaran? Bukankah banyak kasus zina berawal dari tindak tanduk perkenalan diri lewat pacaran? Hal ini tidak bisa disangkal lagi, apalagi untuk sekarang ini. Sudah banyak berita yang kita saksikan. Hanya karena kenalan lewat media FB, hingga suka sama suka, dua sejoli dan yang satunya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (14 tahun) akhirnya jalan berdua dengan kenalannya hingga si gadis kecil dibawa lari jauh dari ortunya. Terjadilah apa yang terjadi. Si gadis kecil pun dirayu-rayu oleh si laki-laki hingga akhirnya mau melepaskan keperawanannya hanya karena rayuan gombal.
Lihatlah adik-adikku ... Bukankah pacaran ini benar-benar jalan menuju zina? Awalnya dari kenalan. Lalu beranjak janjian kencan. Lalu dibawa ke tempat sepi. Setelah itu beranjak ke yang lebih parah. Maka terjadilah zina yang tidak disangka-sangka dari awal, hanya karena alasan true love, membuktikan cinta yang sebenarnya.
Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Ulama terkemuka yaitu Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini.”[1]
Coba perhatikan penjelasan di atas wahai adikku ... Kita dapat suatu pelajaran bahwa setiap hal yang dapat mengantarkan pada yang haram atau dosa besar, maka itu semua menjadi terlarang. Ingatlah bahwa ayat di atas bukan hanya memperingatkan perbuatan zina yang merupakan dosa besar. Namun ayat yang mulia di atas juga memperingatkan segala jalan yang dapat mengantarkan pada zina. Segala jalan menuju zina saja dilarang karena kita dilarang mendekati zina, maka melakukan zina lebih-lebih terlarang lagi.
Namun banyak muda-mudi yang kami sayangkan belum memahami ayat tersebut. Allah Ta’ala sebenarnya cukup menyampaikan ayat yang ringkas saja, namun cakupannya luas untuk melarang hal-hal lainnya. Dari sini, maka aktivitas berdua-duaan antara lawan jenis itu terlarang dan aktivitas menyentuh lawan jenis juga terlarang. Apalagi dua aktivitas yang kami sebutkan ini ada larangan khususnya.
Untuk aktivitas berdua-duaan antara lawan jenis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”[2]Ini menunjukkan terlarangnya kholwat (berdua-duaan antara lawan jenis).
Untuk aktivitas menyentuh lawan jenis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan larangannya dalam sabdanya,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara.Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.[3] Artinya, menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom termasuk keharaman karena dinamakan dengan zina yang juga haram.
Penjelasan di atas sebenarnya sudah cukup menyatakan bahwa pacaran itu terlarang. Jika ada yang masih mengatakan bahwa ada pacaran yang halal yaitu pacaran Islami, maka cukup kami jawab, “Bagaimana mau dikatakan halal sedangkan pelanggaran di atas masih ditemui? Jika kita nekad mengatakan ada pacaran Islami, maka kita juga seharusnya berani mengatakan ada zina Islami, khomr Islami, judi Islami dan sebagainya.” Hanya Allah yang beri taufik.
Lebih Parah Dari Itu
Kalau duduk merapat, berangkulan, berciuman dan sejenisnya yang dilakukan oleh laki perempuan non mahrom yang tak diikat tali pernikahan saja sudah tidak boleh dan dilarang oleh ajaran Islam, bagaimana jika lebih dari itu? Namun inilah yang disayangkan tersebar luas di kalangan muda-mudi. Mereka begitu mudahnya membuktikan cinta, namun dengan jalan yang keliru yaitu dengan “sex before marriage (SBM)”, atau istilah kerennya adalah dengan “making love”. Sekeren apapun namanya namun hakekatnya tetap sama yaitu menerjang larangan Allah dengan melakukan dosa besar zina. Inilah yang dikatakan oleh mereka-mereka sebagai pembuktian cinta. Inilah yang katanya true love, cinta sebenarnya. Bagaimana mungkin zina dinamakan true love sedangkan di sana menerjang larangan Allah yang termasuk dosa besar?
Bukankah Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam kitabnya yang mulia,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32)? Lihatlah bahwa zina di sini disebut dengan perbuatan yang keji dan sejelek-jelek jalan.
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.
Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,
ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ
Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[4] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ
Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” [5]
Meski larangan-larangan zina dalam berbagai dalil di atas begitu tegas dan ancamannya begitu berat ternyata banyak remaja yang terjebak dalam perbuatan keji tersebut. Survey, data yang diperoleh dan dipublikasikan oleh banyak kalangan semakin membuat hati miris. Kadang timbul pertanyaan setelah membacanya? Sudah benar-benar rusakkah pemuda Islam kita?
Haruskah Membuktikan True Love Lewat Making Love?
Mereka yang melakukan aktivitas pacaran, memberikan alasan bahwa seks sebelum nikah (sex before marriage) adalah bukti cinta sejati. Logika mereka, yang namanya cinta itu butuh pengorbanan. Nah, kalau wanita yang diajak pacaran, maka ia harus mau berkorban. Apa bentuk pengorbanannya? Tak lain dan tak bukan adalah mengorbankan kesucian mereka. Naudzu billah.
Tentu ini adalah alasan yang dibuat-buat untuk memperturutkan hawa nafsu rendahan. Yang benar adalah bila seseorang cinta pada seseorang pasti ia akan berusaha memberikan kebaikan kepada orang yang dicintainya dan tak rela bila kekasihnya terjerumus dalam kesengsaraan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ
Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman (dengan iman yang sempurna) hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapat kebaikan.[6]
Bila kita benar-benar cinta kepada seorang wanita dan sebaliknya, maka kita akan bersungguh-sungguh menjaga kesuciannya karena itu adalah suatu kebaikan sebagaimana kita pula ingin memperolehnya. Tentu hal itu tidak ditempuh lewat jalan pacaran dan berhubungan seks di luar jalan yang benar. Pengorbanan yang benar dalam cinta bukan berkorban untuk maksiat, namun berkorban dengan mengerahkan seluruh kemampuan menjaga kesucian diri dan orang yang dicinta serta berusaha meraih hubungan yang dihalalkan oleh Allah. Yakinlah adikku, jika kita benar-benar tulus ingin menjaga kesucian diri dan meraih yang halal, Allah pasti akan menolong. Ingat selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ
Tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah yang ingin menjaga kehormatan dirinya.”[7] Oleh karenanya, jika seseorang betul-betul ingin menjaga kesucian dirinya, maka tempuhlah jalan yang benar yaitu melalui jenjang pernikahan, niscaya pertolongan Allah akan terus datang. Yakinlah!
Jadi cinta sejati dibuktikan lewat jalan yang benar yaitu lewat jalan menikah. Jika belum mampu, maka bersabarlah. Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang baik. Jauhi pergaulan dengan lawan jenis kecuali jika darurat. Banyak memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk terlepas dari zina dan segala jalan menuju perbuatan yang keji tersebut.
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada setiap muda-mudi yang membaca risalah ini.

Disusun di Panggang, Gunung Kidul, 26 Rabi’ul Awwal 1431 H (12/03/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1]Fathul Qodir, Asy Syaukani, 4/300, Mawqi’ At Tafaasir.
[2] HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi(shahih dilihat dari jalur lainnya).
[3] HR. Muslim no. 6925.
[4] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.
[5] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[6] HR. Ahmad (3/206). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim.
[7] HR. Tirmidzi no. 1655. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al Albani juga mengatakann hadits ini hasan.
[8] Kami olah tulisan ini dari Majalah Elfata, edisi 12, vol 07, tahun 2007.

Di Mana Jodohku?

Bukankah Allah telah menciptakan hidup ini berpasang-pasangan? Bukankah manusia, ada laki-laki dan ada wanita, dan keduanya hidup berpasangan? Bukankah jodoh seseorang telah ditetapkan oleh Allah? Jawaban darinya adalah memang demikian, namun pertanyaan selanjutnya, tetapi mengapa aku sulit jodoh? Umur semakin tua, usaha dan ikhtiar telah dilakukan, tapi mengapa jodoh kok masih sulit? 

Sulit jodoh, memang sebuah problem, tetapi perlu disadari bahwa segala problem pasti memiliki jalan keluar dan bahwa seorang muslim atau muslimah tidak patut berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana setiap problem pasti memiliki pemicunya, cobalah, sebelum mencari jalan keluarnya, untuk mencari sebab pemicunya, karena dari sinilah problem tersebut lahir, kalau pemicunya tidak ada, maka problemnya juga tidak ada bukan? 

Banyak sebab seseorang sulit jodoh, bisa dari diri Anda sendiri, misalnya Anda sangat selektif, pilih-pilih, banyak kriteria, harus ini, harus itu dan seabrek syarat lainnya, Anda ingin meraih pasangan yang sempurna atau mendekati sempurna, akibatnya calon dengan kriteria yang Anda patok jarang ditemukan, selanjutnya peluang jodoh pun menyempit dan Anda pun jadi sulit jodoh. 

Bisa juga karena faktor keluarga yang belum kunjung menyetujui dengan berbagai alasan, misalnya harus membantu keluarga dulu, harus menyekolahkan adik-adik, harus menunggu kakak yang belum laku dan sebagainya, sehingga hal itu memperlambat hadirnya pasangan bagi Anda. 

Bisa juga kembali kepada fisik, jujur kita harus mengakui, secara umum masyarakat, anak-anak muda, para gadis dan para pemuda, masih menjadikan kecantikan dan ketampanan sebagai standar utama, padahal mungkin menurut Anda, kecantikan atau ketampanan tidak berpihak kepada Anda. 

Bisa juga kembali kepada faktor kemapanan alias kekayaan, bila seseorang, lebih-lebih anak muda, sudah terlihat mapan, pekerjaannya menjanjikan duit gede, kantongnya tebal, ditunjang dengan kendaraan dan lainnya, maka daya jualnya semakin tinggi, peluang jodohnya lebar. Kepintaran juga bisa menjadi sebab dalam masalah ini, karena dalam batas-batas tertentu bisa dimaklumi, yang namanya bodoh tidak disukai oleh banyak orang. 

Sekarang, cobalah menengok kepada diri Anda, barang kali salah satu sebab di atas ada pada diri Anda, bila ada, maka cobalah untuk mengatasinya terlebih dulu, karena sumber api harus dipadamkan bila Anda ingin api itu mati, jendela harus ditutup rapat bila Anda tidak ingin angin itu masuk. 

Bila Anda terlalu selektif, pilih-pilih, maka cobalah ngalah sedikit, menurunkan standar, jangan tinggi-tinggi-lah, biar peluangnya terbuka lebih lebar, bukankah Agama mengajarkan untuk mengedepankan agama dibandingkan dengan kriteria lainnya? Ini satu sisi. Sisi lainnya, bila Anda mematok kriteria tinggi, maka cobalah untuk ngaca, melihat diri sendiri, pantaskah Anda menuntut kriteria itu? Dalam arti apakah Anda juga selevel? Kalau Anda menuntut kecantikan atau ketampanan, sementara Anda miskin di bidang kecantikan atau ketampanan, bukankah dengan itu Anda memposisikan diri sebagai pangeran kodok yang ingin mempersunting putri raja? Tahu diri sedikit lah. 

Bila kendalanya adalah keluarga, maka atasilah kendala ini, coba berbicara kepada mereka, berusaha meyakinkan mereka, dan secara umum Anda lebih tahu situasi dan keadaan keluarga Anda, maka mestinya Anda lebih tahu bagaimana cara menghadapinya. 

Untuk kendala penampilan, kurang cantik atau kurang tampan, maka tidak perlu berkecil hati, karena tidak semua orang berpandangan demikian, di samping itu kecantikan atau ketampanan adalah relatif, percaya diri saja, tidak perlu berkecil hati karena ini, karena masing-masing telah diberi kadar oleh Allah dan itulah yang terbaik, tidak ada salahnya bila Anda berupaya menutup ‘kekurangan’ di sisi ini dengan kelebihan di sisi lain, boleh jadi penampilan Anda kurang menarik, tetapi ketika misalnya Anda pandai, pintar atau memiliki sisi lain yang positif, tentu kekurangan tersebut akan tertutpi bukan? 

Bila kendalanya adalah kemapanan, maka percayalah bahwa rizki ada di tangan Allah, Anda cukup bersuaha semaksimal mungkin sebatas yang Anda mampu, selebihnya biar Allah yang mengatur, siapa tahu Allah menggantungkan kelapangan rizki Anda dengan menikah? Tidak sedikit orang yang rizkinya sempit sebelum menikah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya begitu dia menikah. Intinya tiada masalah yang tidak ada solusinya, termasuk masalah di mana jodoh Anda? Wallahu a’lam. 


www.alsofwah.or.id

Kau Yang Memulai

Setiap orang yang menikah tentu berharap keluarga yang dibangunnya menjadi keluarga yang sarat dengan sakinah, mawaddah wa rahmah, yang di dalamnya dibangun komitmen untuk menyatukan jiwa dan raga berikut buntut-buntutnya, mensyukuri kelebihan pasangan dan menerima kekurangannya, dan selanjutnya mengaplikasikan diri dalam status dan peran termasuk tanggung jawab dalam keluarga.

Namun harus tetap dimengerti bahwa pernikahan merupakan penggabungan antara dua manusia dengan berbagai sisi perbedaannya, perbedaan latar belakang keluarga dan pendidikan, perbedaan tingkat ilmu dan pemikiran, perbedaan tabiat dan pembawaan dan perbedaan-perbedaan yang lain. Tetapi subhanallah semuanya bisa terakomodir lewat ankahtuka dan qabiltu. 

Bila seorang suami atau istri menyadari dirinya berbeda dengan pasangannya, maka dia tidak akan terkejut bila saat rumah tangga berjalan muncul bukti-bukti perbedaan itu melalui konflik-konflik internal dan kesalahpahaman di antara keduanya, karena sebelumnya sudah menyadari, di tambah dengan niat kuat, plus kesiapan mental, tanggung jawab dan kedewasaan maka apa pun konflik yang terjadi akan bisa dilalui dengan happy ending. 

Tidak sedikit rumah tangga yang berakhir alias bubar di tengah jalan, masing-masing pasangan memilih untuk mengambil jalan sendiri, banyak alasan yang mendasari diambil keputusan bubar ini, salah satu yang sering saya dengar adalah ketidakcocokan yang selanjutnya menelorkan konflik yang berkepanjangan dan akhirnya sad ending diambil sebagai pilihan. 

Sebenarnya apa pun konflik yang timbul akibat ketidakcocokan di antara suami dan istri, selama perkaranya tidak menyerempet sisi syariat dalam bentuk penyimpangan terhadap hukum-hukum Allah, tetap bisa dibicarakan dan dinegoisasikan, tergantung kepada niat dan semangat kedua belah pihak untuk tetap melanjutkan dan tidak membubarkan diri, kembali kepada keinginan kedua pasangan untuk melakukan islahterhadap sisi-sisi yang memang harus diperbaiki. 

Masalahnya, tidak jarang dalam konflik rumah tangga yang dipicu ketidakcocokan, salah satu atau kedua belah pihak menyudutkan yang lain melalui kata-kata langsung atau melalu bahasa tubuh atau keyakinan dalam hati bahwa, “Kau yang memulai.” Ini artinya kaulah biang keroknya, sumber problem, maka kaulah yang harus meminta maaf kepadaku, andai kata pihak yang disalahkan itu memang patut disalahkan dan menyadari lalu meminta maaf maka itu yang diharapkan, konflik akan berakhir damai. 

Namun yang terjadi tidak demikian, yang dituding dengan ‘kaulah yang memulai’ tidak terima dituding demikian, maka dia pun berbalik melemparkan tudingan yang sama kepada pasangannya, hasilnya tidak perlu ditebak karena sudah diketahui, benang yang ruwet tambah ruwet, tidak diketahui mana ujung mana pangkalnya. 

Memadamkan konflik tidak berbeda dengan memadamkan api, mencari sumbernya dan mengguyurnya dengan air yang cukup, padam deh. Cuma kalau urusannya dengan api yang kecil, perkaranya mudah. Beda dengan api yang sudah membesar yang hampir melahap rumah dan akan menghancurkannya, yaitu api konflik antara suami dan istri yang semakin dipertajam, susah untuk dipadamkan, tetapi walaupun susah bukan berarti tidak bisa kan? 

Dalam mencari sumber konflik, suami istri sering terjebak kepada, “Kau yang memulai.” Padahal ia bukan solusi akurat, ya kalau memang dia yang memulai, bila tidak maka akan memicu masalah dan konflik baru. Akan lebih bijak bila kata-kata itu diarahkan dulu kepada diri sendiri, “Akulah yang memulai.” Karena dengan demikian akan muncul inisiatif untuk mengakhiri, kan ada kata-kata, “Kau yang mulai, kau yang mengakhiri.” Kalau sudah sudah demikian maka insya Allah konflik akan usai dan usai pula tulisan ini. Wallahu a’lam. 


www.alsofwah.or.id